CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 28 Oktober 2013

jenis-jenis fiksi

Jenis-jenis Cerita Fiksi

Cerita Fiksi
Rismiati & Mulandari mengungkapkan bahwa cerita fiksi adalah sejenis karangan yang menceritakan peristiwa-peristiwa tertentu secara fiksi.
Kanto –dalam Rismiati & Mulandari–  mengatakan bahwa cerita fiksi adalah cerita tentang peristiwa-peristiwa yang dapat menghidupkan daya khayal anak.
Hemi dan Hendy menambahkan bahwa cerita fiksi adalah cerita rekaan berdasarkan angan-angan atau fantasi, bukan berdasarkan fakta atau kejadian yang sesungguhnya.
Mawoto, Suyatmi, dan Suyitno menambahkan bahwa cerita fiksi merupakan hasil olahan imajinasi seorang pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaiannya terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi secara nyata ataupun yang hanya terjadi dalam khayalan penulis saja.

Jenis-jenis Cerita Fiksi

Jenis cerita fiksi menurut, Badudu :
Narasi, yaitu betuk karangan yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa yang disusun menurut urutan waktu.
Deskripsi, adalah jenis karangan yang isinya melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan hasil pengamatan panca indera kita disertai bukti-bukti yang kuat, misalnya dengan angka, grafik, peta, gambar. Seolah-olah pembaca menyaksikan kejadian atau sesuatu yang ditulisnya itu.
Persuasi, adalah seni verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang, untuk melakukan sesuatu serta mengambil keputusan yang benar dan bijaksana serta dilakukan tanpa paksaan.
Argumentasi, adalah suatu bentuk retoriks yang berusaha mempengaruhi sikap dan penapat orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan keinginan penulis atau pembicara.
Eksposisi, adalah menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca dengan tidak berusaha mempengaruhi pendapat seseorang.
Untuk cerita fiksi-nya sendiri, dibedakan menjadi :
Novel ialah cerita yang melukiskan pengalaman manusia yang isinya lebih singkat atau pendek dan belum ada penyelesaian yang sempurna. Novel ini berkembang dengan pesatnya pada pengarang angkatan 45. Contoh : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Idrus), Kawan Bergelut (Suman Hasibuan), Aku (Idrus).
Cerpen ialah karangan yang menguraikan suatu peristiwa atau melukiskan sesuatu kejadian dalam sepintas kilas, sehingga penyelesaiannya belum ada. Contoh : Hujan Kepagian (kumpulan cerpen) oleh Nugroho Noto Susanto, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen) oleh AA Navis.
Roman ialah cerita tentang percintaan. Contoh : Si Jamin karya Aman Datuk Majdoindo.
Suherli, Sumadiputra dan Sofidar (1987) menambahkan bahwa macam-macam cerita fiksi yang banyak dibaca anak sekolah adalah :
Dongeng. merupakan percakapan yang dituturkan atau diceritakan kembali dari mulut ke mulut. Ceritanya buatan semata-mata, khayal, lucu, dan ajaib. Tujuan utamanya hanya sebagai penghibur sedih dan pelipur lara. Isinya banyak mengandung nasihat serta gambaran hidup seseorang.
Isi dongeng tersebut ada bermacam-macam, yaitu :
1. Dongeng komedi.
2. Fabel adalah dongeng yang menceritakan tentang binatang-binatang yang bertingkah laku seperti manusia. Dongeng binatang kebanyakan mengandung nasihat atau pengajaran kepada anak-anak melalui kiasan yang terkandung didalam cerita karena itu dongeng binatang atau fabel mengandung unsur didaktif dan edukatif. Dalam dongeng binatang dilukiskan bahwa hewan dapat berbicara, berbuat, bertindak seperti manusia.
3. Legenda adalah dongeng khayal yang semata-mata dihubungkan dengan asal-usul suatu tempat atau daerah, gunung, kota, dan sebagainya.
4. Mite adalah dongeng tentang kepercayaan masyarakat.
5. Sage adalah dongeng yang berhubungan dengan peristiwa atau mengandung unsur-unsur sejarah. Contoh : Lutung Kasarung.
6. Hikayat. Berasal dari bahasa arab yang berarti cerita. Hikayat adalah cerita khayal tentang kehidupan raja-raja. Para menteri dan hulubalangnya engan penuh keindahan, kesaktian, dan keanehan serta ceritanya diselingi dengan peperangan.
7. Silsilah atau sejarah adalah cerita tentang asal-usul raja dan kaum bangsawan serta kejadian-kejadian penting dalam istana.

Unsur-unsur Cerita Fiksi

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam fiksi yang harus dipahami pendongeng sebelum bercerita kepada anak, yaitu:
a. Tema, ialah dasar atau makna suatu cerita.
b. Ketegangan, ialah cara menyusun suatu cerita sehingga pembaca tahu yang akan terjadi selanjutnya.
c. Alur, ialah struktur gerak alam fiksi.
d. Penokohan, ialah pelukisan pribadi tokoh agar pembaca dapat mengerti, mengetahui rupa, pribadi atau watak tokoh cerita itu.
e. Konflik, ialah tempat tokoh utama berjuang untuk mengatasi segala kesukaran demi tercapainya tujuan.
f. Latar, ialah latar belakang fisik, unsur, tempat dan ruang dalam suatu cerita.
g. Kesatuan, ialah rasa keseluruhan atau rasa kesatuan yang mengandung suatu makna keseluruhan.
h. Logika, ialah hubungan yang terdapat antara tokoh dengan tokoh, antara pelaku dengan pelaku, antara tokoh dengan latar.
i. Penafsiran, ialah penafsiran pembaca terhadap nilai-nilai, pandangan, dan kehidupan tertentu dalam suatu fiksi.
j. Tokoh dan laku, ialah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam cerita fiksi. Pembaca dan pendengar dapat melihat tokoh itu dengan jelas melalui laku atau aksi.
k. Gaya, ialah pemilihan dan penyusunan bahasa, dengan gaya dapat diketahui cara pengarang menata bahan untuk menguji suatu efek tertentu.
***
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, unsur-unsur dalam cerita fiksi berguna untuk memberikan gambaran kepada anak mengenai cerita yang didengar dari awal hingga akhir cerita, sehingga anak dapat mengikuti cerita dengan menempatkan diri sebagai tokoh dan yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Dengan demikian, anak akan merasakan seakan-akan kisah dalam cerita adalah kisah yang dialaminya sendiri yang nantinya dapat menyebabkan anak dapat menangis, meluapkan kegembiraannya atau bangga karena kemenangan.

Cara Penyampaian Cerita

Penyampaian dongeng dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Tuturkan secara lambat (tidak buru-buru) dan jelas. Makin muda usia anak, sebaiknya pelan agar anak dapat menyerap dan memahami cerita.
- Nada suara sebaiknya normal dan santai.
- Kecepatan irama suara sesuai kebutuhan teks. Misalnya saat membangun ketegangan-ketegangan.
- Variasikan nada suara pada berbagai karakter. Hal ini akan lebih mendramatisir dialog dan menghidupkan karakter yang ada. Lakukan secara wajar karena jika berlebihan yang diingat anak justru suara dan bukan ceritanya.
- Jika ada ilustrasi, peganglah buku tersebut sehingga anak dapat melihatnya.
Gunakan telunjuk untuk menunjuk barisan kalimat yang sedang dibaca tanpa menutupi gambar ilustrasinya.
- Alat bantu juga bisa digunakan. Misalnya pensil atau boneka tangan. Penggunaan alat peraga ini biasanya sangat efektif untuk anak-anak yang lebih kecil.
- Beri tanggapan pada reaksi atau komentar yang dilontarkan anak atas cerita yang dibacakan.
Selain cara penyampaian dongeng yang baik dan benar, yang perlu diperhatikan lagi supaya dongeng dapat menarik perhatian anak adalah siapa yang menyampaikan dan waktu penyampaiannya. Dongeng dapat menarik perhatian anak bila disampaikan oleh orang yang ahli mendongeng, karena dapat lebih menjiwai dan ekspresif sesuai dengan cerita dongeng. Waktu yang dibutuhkan dalam mendongeng sekitar 15 – 20 menit untuk satu cerita.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa cara penyampaian cerita yang baik adalah : penuturannya tidak buru-buru, nada suara normal dan santai, irama suara sesuai kebutuhan teks, variasikan nada suara pada berbagai karakter, peganglah buku tersebut sehingga anak dapat melihat ilustrasi gambar yang ada, gunakan alat batu jika perlu, beri tanggapan pada reaksi atau komentar yang dilontarkan anak atas cerita yang dibacakan, dan bacakan selama 15 – 20 menit.
[dari berbagai sumber]

0 komentar:

Posting Komentar