Waktu semakin berlalu, dengan berat ia tinggalkan anak-anak itu dan
bergegas keluar dari ruangan. Karin berlari ke ruangan Juli yang tak
jauh dari tempatnya, langkahnya terhenti saat sampai di ambang pintu.
Perlahan ia dorong pintu itu, setengah matanya terpejam menanti pintu
sepenuhnya terbuka.
"Pagi semua, maaf aku terlambat" sapa Karin.
Ia terkejut menatap penghuni ruangan , Juli dan seorang pasien
menatapnya heran. Sial, umpatnya dalam hati.
"baiklah mungkin Doni bisa melakukan rawat jalan, biar saya siapkan
perawat untuknya..." lanjut Juli tanpa peduli ucapannya, Karin menunduk
dengan wajah memerah. Ia berjalan menuju tempat kecil di ujung ruangan.
Bodoh, batinnya.
"Dok, apakah gadis tadi perawat" sayup-sayup ia dengar pembicaraan
laki-laki itu dengan Juli, ia menelan ludah dalam-dalam. Apakah ia akan
mencelaku? Gumamnya.
"iya"
" saya ingin dia jadi perawat kakak saya" ujar orang itu lagi.
"jadi perawatnya" gumam Karin heran.
"apakah boleh?"
"oh tentu saja boleh, biar nanti saya bicara dengannya" jawab Juli
Karin masih tak percaya mendengar ucapan orang itu, pikirannya melayang
tak karuan.
" Karin" panggil Juli membuyarkan lamunannya.
"hah.." jawab Karin setengah sadar
"gue mau ngomong ama lo"
ia segera menuruti perintah Juli dan bergegas menuju tempat duduk di
depan Juli.
"ada apa?" tanyanya
"Pak Trya bilang, dia mau lo jadi perawat kakaknya" jawab Juli
"trus..."
"iya, lo harus dateng ke rumahnya besok jam 06.30, jangan telat" tegas
Juli
"lo serius?"
"iya, dia mau lo on time. Trus juga sekalian kemasin barang-barang lo,
karena dia minta lo buat tinggal di rumahnya sementara waktu"
"hah.. Emang harus ya, Kenapa nggak setengah hari aja?" tawar Karin
" gini ya nona. karena pak Trya sibuk, jadi dia butuh lo buat jaga
kakaknya. Yah meski kakaknya juga sibuk, lagian lumayan Rin. Untuk
sementara waktu lo nggak perlu ngeluarin uang buat makan, karena pasti
makan lo ditanggung pak Trya, ditambah lagi lo nggak bakal telat kalo
kerja. Iya nggak?" jelas Juli.
"iya juga ya, kalo gitu gue bisa nabung" ujarnya
"makannya, lo jangan kebanyakan protes "
"siapa yang protes, gue cuma lagi mikir-mikir"
"hmm, terserah lo dah. Jangan lupa besok 06.30, don't late, jangan kaya
tadi" goda Juli
"iya, gue telat juga buat ngunjungin kamar sebelah" gerutu Karin
"masih ke anak-anak itu, ya ampun. Lo nggak berubah ya, masih kayak
dulu"
"biarin, lagipula mereka manis kok" jawab Karin.
Obrolan mereka begitu hangat, tak terlihat batasan antara dokter dan
perawat. Tawa mereka menggelegar menepis keheningan di ruang itu, namun
Karin lebih bahagia, baru kali ini ia diminta menjadi perawat pribadi.
------------------------------------------------------------------------------------
pukul 06.30, Karin berdiri tepat di depan rumah Trya, ia amati kertas
bertuliskan alamat itu, semua sama seperti ditulis dalam kertas. Karin
bergegas masuk ke halaman rumah, ditatapnya seluruh penjuru halaman.
Rasanya aku akan betah di sini. Pikirnya.
"Gukk.. Guk...!!" suara gonggongan anjing membuyarkan pikirannya. Seekor
bull dog menggonggong ke arahnya, Karin menatap bull dog itu dan mulai
mendekat.
"tenang, aku bukan penjahat, apa majikanmu ada" celotehnya sambil
mengelus pelan kepala si anjing. Anjing itu hanya menggonggong ke
arahnya, Karin tersenyum simpul.
"Siapa namamu manis?" Tanya Karin sambil mengelus leher si anjing. Tak
ada gonggongan yang terdengar, anjing itu mulai luluh. Karin mengelus
lagi kepala bull dog itu.
"aku punya sesuatu untukmu, sebentar" ujar Karin, ia merogoh ke dalam
tas, diambilnya mainan berbentuk tulang." ini, meski bukan tulang
sungguhan, tapi masih bisa digunakan untuk bermain" lanjutnya meletakkan
mainan itu di hadapan si anjing.
"Baiklah, selamat bersenang-senang" ujar Karin, ia kembali berjalan
menuju pintu utama. Karin menekan bel yang ada di ujung pintu, tak ada
sahutan. Sekali lagi ia menekan bel, terdengar derap kaki seseorang
mendekat ke arah pintu. Tak lama terlihat seorang laki-laki seusianya
membukakan pintu, ia orang yang sama saat ada di ruangan kerja Juli.
" maaf, Pak Trya ada?" tanya Karin pada laki-laki itu.
"iya, saya pak Trya. Kamu perawat kemarin kan?" tanya laki-laki itu
dengan tawa yang tertahan.
"eh, iya" jawab Karin dengan pipi yang mulai memerah.
"silahkan masuk, biar bi' Inah yang bawa barang-barangmu" ujar Trya
"Nggak usah, saya bisa bawa sendiri kok" tolak Karin halus.
"ya sudah, biar aku tunjukkan kamarmu"
Karin berjalan mengekor di belakang Trya, matanya tak berhenti mengamati
setiap sudut ruangan.
"oh iya, gimana cara kamu masuk?" tanya Trya.
"maksdunya pak?" jawab Karin bingung. Trya tersenyum menatap kepolosan
Karin.
"gimana kamu bisa sampai di depan pintu tadi, di sana kan ada bull dog"
jelas Trya
"oh itu, entahlah, memang bull dognya kenapa pak?" tanyanya lagi.
"Missi tuh anjing galak, banyak tamu yang dateng, tapi nggak berani
masuk" jelas trya" jadi kalo ada tamu, tinggal dengerin aja si Missi
gonggong, kalo nggonggongnya lama, berarti ada tamu, tapi kalo nggak
berarti nggak ada tamu" lanjutnya.
"pantesan tadi pak Trya lama bukain pintu" celetuk Karin.
"hehe iya, aku fikir kak Doni, jadi aku agak males bukannya" jelas
Trya." oh iya tadi kamu digalakkin nggak sama Missi?" tanya Trya.
"yah dikit sih" jawabnya
"hmm, baguslah" ujar Trya "ini kamarmu, maaf ya kalo kurang nyaman. Kalo
ada apa-apa bisa panggil bi' Inah" lanjutnya
"iya pak"
"jangan pangil aku pak, aku masih muda. Panggil aja Trya" pintanya
"iya pak, maaf maksudku Trya" ujar Karin gugup.
" yaudah, aku tinggal dulu" ujar Trya tersenyum, ia berlalu dengan
tatapan mata yang masih memandang Karin. Karin tersenyum membalas
tatapan itu, hingga Trya berlalu dari pandangannya. Orang-orang itu
begitu baik. Batin Karin. Ia membuka pintu kamar yang tak terkunci,
perlahan ia jinjing barang-barangnya ke dalam.
"wow, keren banget nih kamar" ujarnya, ia rebahkan tubuhnya di atas
tempat tidur. Matanya terpejam untuk sementara waktu, tak lama ia
bangkit dan mengamati kamarnya.
" apa itu balcon?" gumam Karin menatap sebuah pintu kaca yang ada di
sudut ruangan. Ia mendekat ke arah pintu itu, wajahnya takjub menatap
pemandangan di luar. Ia tak pernah merasa sebahagia ini, ia kembali
menatap ke arah halaman, missi terlihat asik memainkan tulang-tulangan
yang ia beri tadi. Anjing manis. Gumamnya.
---------------------------------------------
"Hoam.." Karin menguap setelah beberapa jam lalu terlelap. Ia menatap
jam dinding di kamarnya, pukul 12.30 berjam-jam ia terlelap, diusapnya
kedua mata yang sayu setelah tertidur berjam-jam. Ia keluar dan berjalan
menuju dapur. Sepi sekali rumah ini. Batinnya.
"eh non Karin udah bangun" sambut bi' Inah.
"bibi' tau nama saya?" tanya Karin heran.
"ya iyalah non, den Trya yang kasih tau saya" jelas bi' Inah." non Karin
lapar? Biar saya siapkan makan siang" lanjuntya.
"nggak bi' , oh iya Trya mana bi'?"
" dia ke kantor non," jawab bi' Inah."tadi dia sempat pesen kalo non
Karin bangun, den Trya minta non, buat nyiapin obat den Doni"
" Doni?"
"iya dia kakak den Trya"
"oh, iya bakal saya siapin." ujar Karin. Ia mengambil satu gelas air dan
meneguk habis air itu. Doni? Dasar Juli, nggak ngasih tau nama kakak
Trya. Batin Karin kesal.
Ia merogoh saku celananya, dan mengambil sebuah ponsel. Karin mencari
no. Hp juli dan segera menghubunginya.
" Hallo"
" iya, ada apa rin?" tanya Juli.
"gue mau nanya, si Doni tuh sakit apa sih?" tanyanya.
"Ya ampun, gue lupa kasih tau lo, dia penderita leukimia" jawabnya."
udah dulu ya, ada pasien nih" sambung Juli segera menutup saluran
telfon.
Karin meletakkan ponselnya, sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari.
ia harus berhadapan dengan penyakit yang merenggut nyawa ibunya, rasa
iba muncul dalam benaknya. kenapa harus leukemia? teriaknya dalam hati,
rasa pesimis kini mulai menghantuinya, apa aku bisa membantu Doni?
gumamnya dalam hati.
---------------------------------------------
(to be continue)
Senin, 28 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar