Rismiati & Mulandari mengungkapkan bahwa
cerita fiksi adalah sejenis karangan yang menceritakan
peristiwa-peristiwa tertentu secara fiksi.
Kanto –dalam Rismiati & Mulandari– mengatakan bahwa
cerita fiksi adalah cerita tentang peristiwa-peristiwa yang dapat
menghidupkan daya khayal anak.
Hemi dan Hendy menambahkan bahwa cerita fiksi adalah cerita rekaan
berdasarkan angan-angan atau fantasi, bukan berdasarkan fakta atau
kejadian yang sesungguhnya.
Mawoto, Suyatmi, dan Suyitno menambahkan bahwa cerita
fiksi merupakan hasil olahan imajinasi seorang pengarang berdasarkan
pandangan, tafsiran, dan penilaiannya terhadap peristiwa-peristiwa yang
pernah terjadi secara nyata ataupun yang hanya terjadi dalam khayalan
penulis saja.
Jenis-jenis Cerita Fiksi
Jenis cerita fiksi menurut, Badudu :
Narasi, yaitu betuk karangan yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa yang disusun menurut urutan waktu.
Deskripsi, adalah jenis karangan yang isinya
melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan hasil pengamatan panca
indera kita disertai bukti-bukti yang kuat, misalnya dengan angka,
grafik, peta, gambar. Seolah-olah pembaca menyaksikan kejadian atau
sesuatu yang ditulisnya itu.
Persuasi, adalah seni verbal yang bertujuan untuk
meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara
pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang, untuk melakukan sesuatu
serta mengambil keputusan yang benar dan bijaksana serta dilakukan
tanpa paksaan.
Argumentasi, adalah suatu bentuk retoriks yang
berusaha mempengaruhi sikap dan penapat orang lain, agar mereka percaya
dan akhirnya bertindak sesuai dengan keinginan penulis atau pembicara.
Eksposisi, adalah menerangkan dan menguraikan
suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan
pembaca dengan tidak berusaha mempengaruhi pendapat seseorang.
Untuk cerita fiksi-nya sendiri, dibedakan menjadi :
Novel ialah cerita yang melukiskan pengalaman
manusia yang isinya lebih singkat atau pendek dan belum ada penyelesaian
yang sempurna. Novel ini berkembang dengan pesatnya pada pengarang
angkatan 45. Contoh : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Idrus),
Kawan Bergelut (Suman Hasibuan), Aku (Idrus).
Cerpen ialah karangan yang menguraikan suatu
peristiwa atau melukiskan sesuatu kejadian dalam sepintas kilas,
sehingga penyelesaiannya belum ada. Contoh : Hujan Kepagian (kumpulan
cerpen) oleh Nugroho Noto Susanto, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen)
oleh AA Navis.
Roman ialah cerita tentang percintaan. Contoh : Si Jamin karya Aman Datuk Majdoindo.
Suherli, Sumadiputra dan Sofidar (1987) menambahkan bahwa macam-macam cerita fiksi yang banyak dibaca anak sekolah adalah :
Dongeng. merupakan percakapan yang dituturkan
atau diceritakan kembali dari mulut ke mulut. Ceritanya buatan
semata-mata, khayal, lucu, dan ajaib. Tujuan utamanya hanya sebagai
penghibur sedih dan pelipur lara. Isinya banyak mengandung nasihat serta
gambaran hidup seseorang.
Isi dongeng tersebut ada bermacam-macam, yaitu :
1. Dongeng komedi.
2. Fabel adalah dongeng yang menceritakan tentang
binatang-binatang yang bertingkah laku seperti manusia. Dongeng binatang
kebanyakan mengandung nasihat atau pengajaran kepada anak-anak melalui
kiasan yang terkandung didalam cerita karena itu dongeng binatang atau
fabel mengandung unsur didaktif dan edukatif. Dalam dongeng binatang
dilukiskan bahwa hewan dapat berbicara, berbuat, bertindak seperti
manusia.
3. Legenda adalah dongeng khayal yang semata-mata
dihubungkan dengan asal-usul suatu tempat atau daerah, gunung, kota, dan
sebagainya.
4. Mite adalah dongeng tentang kepercayaan masyarakat.
5. Sage adalah dongeng yang berhubungan dengan peristiwa atau mengandung unsur-unsur sejarah. Contoh : Lutung Kasarung.
6. Hikayat. Berasal dari bahasa arab yang berarti
cerita. Hikayat adalah cerita khayal tentang kehidupan raja-raja. Para
menteri dan hulubalangnya engan penuh keindahan, kesaktian, dan keanehan
serta ceritanya diselingi dengan peperangan.
7. Silsilah atau sejarah adalah cerita tentang asal-usul raja dan kaum bangsawan serta kejadian-kejadian penting dalam istana.
Unsur-unsur Cerita Fiksi
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam fiksi yang harus dipahami pendongeng sebelum bercerita kepada anak, yaitu:
a. Tema, ialah dasar atau makna suatu cerita.
b. Ketegangan, ialah cara menyusun suatu cerita sehingga pembaca tahu yang akan terjadi selanjutnya.
c. Alur, ialah struktur gerak alam fiksi.
d. Penokohan, ialah pelukisan pribadi tokoh agar pembaca dapat mengerti, mengetahui rupa, pribadi atau watak tokoh cerita itu.
e. Konflik, ialah tempat tokoh utama berjuang untuk mengatasi segala kesukaran demi tercapainya tujuan.
f. Latar, ialah latar belakang fisik, unsur, tempat dan ruang dalam suatu cerita.
g. Kesatuan, ialah rasa keseluruhan atau rasa kesatuan yang mengandung suatu makna keseluruhan.
h. Logika, ialah hubungan yang terdapat antara tokoh dengan tokoh, antara pelaku dengan pelaku, antara tokoh dengan latar.
i. Penafsiran, ialah penafsiran pembaca terhadap nilai-nilai, pandangan, dan kehidupan tertentu dalam suatu fiksi.
j. Tokoh dan laku, ialah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam
cerita fiksi. Pembaca dan pendengar dapat melihat tokoh itu dengan jelas
melalui laku atau aksi.
k. Gaya, ialah pemilihan dan penyusunan bahasa, dengan gaya dapat
diketahui cara pengarang menata bahan untuk menguji suatu efek tertentu.
***
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, unsur-unsur dalam cerita
fiksi berguna untuk memberikan gambaran kepada anak mengenai cerita yang
didengar dari awal hingga akhir cerita, sehingga anak dapat mengikuti
cerita dengan menempatkan diri sebagai tokoh dan yang dialami oleh tokoh
dalam cerita. Dengan demikian, anak akan merasakan seakan-akan kisah
dalam cerita adalah kisah yang dialaminya sendiri yang nantinya dapat
menyebabkan anak dapat menangis, meluapkan kegembiraannya atau bangga
karena kemenangan.
Cara Penyampaian Cerita
Penyampaian dongeng dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Tuturkan secara lambat (tidak buru-buru) dan jelas. Makin muda usia
anak, sebaiknya pelan agar anak dapat menyerap dan memahami cerita.
- Nada suara sebaiknya normal dan santai.
- Kecepatan irama suara sesuai kebutuhan teks. Misalnya saat membangun ketegangan-ketegangan.
- Variasikan nada suara pada berbagai karakter. Hal ini akan lebih
mendramatisir dialog dan menghidupkan karakter yang ada. Lakukan secara
wajar karena jika berlebihan yang diingat anak justru suara dan bukan
ceritanya.
- Jika ada ilustrasi, peganglah buku tersebut sehingga anak dapat melihatnya.
Gunakan telunjuk untuk menunjuk barisan kalimat yang sedang dibaca tanpa menutupi gambar ilustrasinya.
- Alat bantu juga bisa digunakan. Misalnya pensil atau boneka tangan.
Penggunaan alat peraga ini biasanya sangat efektif untuk anak-anak yang
lebih kecil.
- Beri tanggapan pada reaksi atau komentar yang dilontarkan anak atas cerita yang dibacakan.
Selain cara penyampaian dongeng yang baik dan benar, yang perlu
diperhatikan lagi supaya dongeng dapat menarik perhatian anak adalah
siapa yang menyampaikan dan waktu penyampaiannya. Dongeng dapat menarik
perhatian anak bila disampaikan oleh orang yang ahli mendongeng, karena
dapat lebih menjiwai dan ekspresif sesuai dengan cerita dongeng. Waktu
yang dibutuhkan dalam mendongeng sekitar 15 – 20 menit untuk satu
cerita.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa cara penyampaian
cerita yang baik adalah : penuturannya tidak buru-buru, nada suara
normal dan santai, irama suara sesuai kebutuhan teks, variasikan nada
suara pada berbagai karakter, peganglah buku tersebut sehingga anak
dapat melihat ilustrasi gambar yang ada, gunakan alat batu jika perlu,
beri tanggapan pada reaksi atau komentar yang dilontarkan anak atas
cerita yang dibacakan, dan bacakan selama 15 – 20 menit.
[dari berbagai sumber]