Senin, 13 Februari 2012, 11:15 WIB
Foto-foto: Nyanyu/PicnicHolic
Mahameru merupakan puncak dari Gunung Semeru, gunung berapi
tertinggi di Pulau Jawa yang bearada di antara Kabupaten Malang dan
Lumajang, Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan
laut), Puncak Mahameru mendapat julukan Langit Pulau Jawa. Gunung berapi
ini hingga saat ini masih aktif selalu menawarkan cerita unik bagi para
pendakinya.
Meskipun harus melewati jalur yang cukup terjal dan
cuaca yang sangat dingin (sekitar 15-21 derajat Celcius di siang hari)
untuk menggapainya, Mahameru masih menjadi puncak favorit pilihan
pendaki Indonesia. Mendengar cerita tentang pesona kecantikan sepanjang
jalur pendakiannya membuat saya tergoda untuk mendakinya.
Ranu PaneDengan
sebuah jeep dari Desa Tumpang, saya dan teman-teman menuju Desa Ranu
Pane yang merupakan titik awal pendakian. Sepanjang 1,5 jam perjalanan
awal menuju pos pendaftaran di Ranu Pane, mata kami sudah dimanjakan
dengan pemandangan segar yang mampu menghilangkan kepenatan setelah 16
jam naik kereta api dari Jakarta.

Kanan
kiri terlihat perkebunan apel dan tebu milik masyarakat setempat.
Udara segar benar-benar kami nikmati hari itu. Gugusan pegunungan Bromo
dengan bukit teletubbies-nya juga tak luput dari penglihatan mata dan
kamera kami. Di ujung pos pendaftaran, Ranu Pane (Ranu artinya Danau)
yang dikelilingi perkebunan kentang, perbukitan, dan keramahan penduduk
yang sedang berladang, menyambut kami. Sebuah perpaduan bagus untuk
meningkatkan mood kami menggapai Mahameru.
Ranu Kumbolo, Surga di Pagi HariCuaca
cerah saat itu, dan kami sudah menyelesaikan proses administrasi di pos
pendaftaran. 2 jam pertama jalur yang kami lewati cukup landai.
Sesekali kami berhenti untuk beristirahat di shelter-shelter
peristirahatan. Pemandangan khas hutan tropis mendominasi jalur yang
kami lewati. Udara dingin sore itu memaksa kami untuk tidak berhenti
lama di tiap shelter yang kami singgahi. Suhu yang dingin bukan hanya
karena udara yang diam, tetapi juga hembusan angin kencang.
Satu
jam selanjutnya jalur agak sedikit mendaki, namun tidak terjal. Kami
tidak bisa melihat pemandangan kanan kiri lagi karena kabut sudah turun
dan gelap malam sudah datang. Kami hanya fokus pada jalan setapak yang
kami lewati. Jaket dan sarung tangan mulai kami kenakan bersama dengan
headlamp untuk menerangi jalan.
Setibanya di Ranu Kumbolo, kami
mendirikan tenda untuk bermalam dan beristirahat. Beberapa teman
seperjalanan mengatakan Ranu Kumbolo ini luar biasa indahnya. Tapi,
karena hari sudah gelap dan dingin yang luar biasa ini menusuk tulang,
secangkir coklat panas menurut saya lebih indah saat itu.

Hingga
saat terbangun di pagi hari, saya seperti berada di Surga. Ah, saya
memang belum tahu surga itu seperti apa. Tapi demi melihat sekeliling,
tempat dimana saya menghabiskan malam karena kelelahan, saya merasa
seperti berada di tempat terindah.
Dihadapan saya terpampang
danau air tawar yang menyejukkan penglihatan. Refleksi 2 bukit pada
kanan dan kirinya terlihat jelas dipermukaan danau seluas 14 hektar
tersebut. Pohon pinus dan perbukitan masih diselimuti kabut tipis. Saya
tidak percaya ada danau cantik di ketinggian 2.400 mdpl ini.
Kami
tidak sendiri. Beberapa pendaki juga mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Inilah rumah singgah bagi para pendaki yang akan naik atau pun turun
dari Mahameru. Kegiatan memancing, mengisi botol kosong dengan air
danau, mengabadikan surga dengan kamera, semua terlihat selaras.
Kami
saling menyapa, saling bercerita, bahkan berbagi kopi. Hawa dingin
menyengat yang kami rasakan tadi malam, sekarang menjadi hangat. Hangat
oleh matahari yang sudah keluar, juga akan persahabatan yang ditawarkan.
Saya jatuh cinta pada Ranu Kumbolo!
KalimatiKami
tidak bisa berlama-lama menikmati surga gunung ini. Kami masih harus
mendaki 1.276 meter lagi, tentunya dengan jalur yang tak lagi landai.
Setelah membuat sarapan agar energi tetap seimbang, kami membongkar
tenda dan kembali melanjutkan perjalanan. Enggan rasanya meninggalkan
Ranu Kumbolo. Tapi, ranger kami mengingatkan bahwa setelah turun dari
Mahameru kita akan kemping lagi di sini.
Tujuan kami selanjutnya
adalah pos Kalimati, pos terakhir sebelum kami menggapai Si Langit
Pulau Jawa. Empat jam perjalanan, dengan pemandangan yang lebih
menakjubkan. Melewati Tanjakan Cinta, terlihat panorama Ranu Kumbolo
yang biru, tenang dan menyejukkan. Pada sisi sebaliknya, terlihat savana
luas, seluas mata memandang. Itulah padang savanna bernama Oro-Oro
Ombo.

Alang-alang
kering setinggi tubuh berjajar rapi membentuk jalan setapak kecil.
Bersentuhan dengan tubuh kami saat kami melewatinya. Bunga Edelweiss dan
Lavender tumbuh liar dan membentuk koloni sendiri, memberikan pendaran
warna berbeda di antara savana luas berwarna emas. Sesekali kami mencium
harum bunga Lavender. Atau sengaja mendekatkan ke penciuman kami ke
bunga Edelweis yang sedang mekar. Bau yang khas yang tak akan pernah
terlupakan.
Bukit-bukit hijau terlihat gagah namun anggun
memagari savana ini. Seakan menjaga agar keindahannya tidak pudar. Kami
melihat puncak gunung berwarna abu-abu, tidak hijau seperti gunung lain
yang pernah saya daki. Ternyata itulah puncak Mahameru. Berwarna
abu-abu, terlihat terjal dan gersang. Tapi saya justru makin semangat
untuk melanjutkan perjalanan karena merasa semakin dekat dengan tujuan.
Empat
jam sudah kami berjalan beriringan dengan pemandangan yang menakjubkan.
Hawa dingin kembali menghadang kami setibanya di Kalimati, pos terakhir
sebelum mendaki. Rasa dingin di Ranu Kumbolo ternyata tak sebanding
dengan Kalimati yang lebih dingin ini. Siang hari, dengan matahari yang
tetap memancar, hawa dingin tetap tidak terelakkan. Angin lembah yang
dingin dan bertiup kencang serasa membuat tulang-tulang kelu.
Setelah
mendirikan tenda, kami segera memasak dan menyantap makanan hangat
(yang juga cepat dingin). Setelah itu langsung tidur, walaupun baru jam 2
siang. Ya, kami memang harus menyiapkan energi kami untuk pendakian
nanti malam.
Puncak Mahameru hanya bisa ditaklukkan jika kita
berangkat sekitar jam 1 dini hari. Lebih dari itu, kemungkinan kita
tidak akan bisa mencapai puncaknya karena badai pasir yang menghadang.
Atau yang lebih parah, terjebak di puncaknya, tidak bisa turun. Rasa
lelah, perut kenyang, hawa dingin hingga ke sumsum tulang, membatalkan
niat saya untuk menikmati panorama di Kalimati secara maksimal. Tidur
memang menjadi pilihan yang tak bisa ditawar.
Puncak MahameruPukul
1 dini hari kami mulai merangkak. Segala perlengkapan kami tinggal di
dalam tenda di Kalimati. Kami hanya membawa air mineral, coklat, dan
perlengkapan P3K. Sulitnya medan yang akan kami tempuh memang tidak
memungkinkan untuk membawa perlengkapan seperti saat mendaki awal.
Jalan
yang sempit, berpasir dan berkerikil kerap membuat langkah kami
terhenti setiap 15 menit. Oksigen yang semakin menipis dan udara dingin
hingga mencapai 9 derajat celcius tak sedikit pun menyurutkan langkah
kami. Kami benar-benar bertekad untuk mencapai Puncak Mahameru, meskipun
tertatih. Kami benar-benar mengatur langkah karena kanan kiri pada
beberapa titik yang kami lewati jalanan longsor.
1,5 jam
melangkah dalam gelap dan lembab, akhirnya kami tiba pada ‘pintu
gerbang’ si jalur terjal Mahameru, jalur yang kami lihat saat kami
menuju Kalimati. Abu-abu, berkerikil, dan gersang. Langkah menjadi makin
tertatih. Kami tidak lagi mendaki, namun merangkak. Rasanya, untuk
merangkak 1 meter saja butuh effort yang luar biasa. Merangkak 1
langkah, turun 3 langkah. Itulah yang kami alami.
Berhenti
terlalu lama hanya akan mendapatkan dingin yang menyiksa. Saya sempat
putus asa dan berniat turun sebelum mencapai Sang Puncak, namun,
lagi-lagi teman-teman sependakian memberikan semangat dengan mengatakan
“Ayo… itu puncaknya sudah terlihat. Tidak sampai satu jam sudah sampai
kok!”. Kata-kata yang menghibur sekali, walaupun pendakian masih jauh.
Mungkin butuh sekitar 3 jam lagi.
Pemandangan luar biasaMakin
tinggi, makin tertatih karena oksigen makin tipis. Jalur yang didaki
dipenuhi dengan kerikil dan batu besar yang siap menggelinding mengenai
kita kapan saja. Tak bisa beristirahat lama karena angin dingin makin
bertiup kencang membawa terbang debu-debu di sekitar kita.
Namun,
di antara rasa putus asa yang kerap datang, kami disuguhi pemandangan
luar biasa. Dari ufuk timur, warna jingga bertumpuk dengan warna oranye
muncul membentuk garis lurus pada dasar langit yang biru. Diikuti dengan
munculnya bulatan emas mentari. Pemandangan luar biasa itu hanya
terjadi tidak lebih 2 menit. Itu adalah bonus untuk kami sebelum sampai
puncak.
Lima jam mencoba untuk terus merangkak, kami akhirnya
sampai di Puncak Mahameru. Sembah sujud saat itu demi melihat keajaiban
yang Allah ciptakan. Jajaran gunung Bromo, Slamet, Sundoro, Sumbing,
semua terpampang di depan mata dengan megahnya.
Awan kini tidak
berada di atas kami, tapi di bawah kami. Jika saat itu kami dalam film
Doraemon, pastilah adegan melompat ke awan sudah kami lakukan. Awan-awan
yang terasa begitu dekat dengan kaki, melingkupi beberapa sudut
perbukitan dan pegunungan di Pulau Jawa.

Gradasi
warna alam refleksi dari sinar matahari pagi terpancar begitu sempurna.
Hijau lumut, hijau toska, hijau muda, biru cerah, jingga, keemasan,
putih berarak, perpaduan warna yang menyejukkan hati untuk lukisan alam
paling sempurna dari Sang Maestro.
Sayang sekali, saya tak bisa
berlama-lama di Puncak Mahameru ini. Selain (lagi-lagi) hawa dingin dan
angin yang bertiup kencang, kami khawatir badai akan datang. 25 menit
berada di titik tertinggi Pulau Jawa, cukup membayar rasa letih dan
(hampir) putus asa saya.
Setelah mengabadikan gambar seadanya
karena hanya membawa kamera saku, kami semua turun. Masih merasakan
lelah, tapi kami semua bangga. Bukan bangga karena bisa sampai di
puncak, namun bangga karena kami bisa mengalahkan ego kami untuk tetap
terus melangkah sembari saling memberi semangat kepada teman
seperjalanan. Tenda di Kalimati telah menanti kami dengan sejuta cerita
yang siap yang kami bagi.
tag: http://www.republika.co.id/berita/komunitas/picnicholic/12/02/13/lzbd69-menggapai-mahameru-si-langit-pulau-jawa