CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 04 Desember 2013

Sinopsis "99 Cahaya di Langit Eropa"

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.

Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati.

Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.

Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.

Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan

Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya.

Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.

Aku teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib RA)

tag:  http://www.hanumrais.com/p/sinopsis-99-cahaya.html#.Up8ca_vPIrg

Senin, 18 November 2013

Kintamani

Kintamani salah satu objek wisata di Bali, yang memiliki udara pegunungan berhawa sejuk dengan panorama Gunung  dan Danau Batur begitu indah. Kawasan paling favorit di sini adalah desa Penelokan kecamatan Kintamani, desa ini terletak di tepi Gunung Batur adalah tempat tampil teramat indah untuk melihat pemandangan Gunung Batur beserta danaunya. Dari tempat ketiinggian melihat sensasi gunung Batur, kadang-kadang terlihat begitu jelas mengeluarkan asap, karena tergolong masih aktif dan keindahanan danau bulan sabit yang berada di kaki gunung. Berkunjung ke sini adalah waktu siang hari, saat waktu makan siang, karena di sepanjang jalan tersedia restaurant dengan menyajikan pemandangan lembah, gunung serta danau.

Di sini terdapat Gunung berapi kecil, gunung ini masih aktif sampai letusan besar, saat itu terjadi pada tahun 1917, dimana letusan tersebut telah mengambil ribuan nyawa juga menghancurkan ratusan rumah penduduk Desa Batur Tua keberadaannya di dasar kaldera Batur. Penduduk yang masih tersisa mengungsi ke Desa Batur, pura Ulun Danu lokasinya berada di lembah gunung Batur, juga pindah ke Desa Batur seperti ditempati sekarang, tapi sampai sekarang pura Ulun Danu Batur yang ada di penolokan masih menjadi pusat kegiatan pemujaan penduduk setempat dan Bali.
 English : Kintamani:: English version
Penelokan - kintamani

Menempati bagian tengah pegunungan dan dataran tinggi pulau Bali, suhu udara di daerah Kintamani, Bangli ini cukup sejuk bahkan sangat dingin di malam hari untuk wilayah Kintamani, tanahnya tergolong subur, pohon jeruk, kopi serta coklat bisa berkembang optimal di sini. Pada musim-musim tertentu biasanya musim penghujan,  akan disertai turunnya kabut. Kintamani terletak di kabupaten Bangli. Bangli merupakan sebuah kabupaten letaknya di tengah-tengah pulau ini, salah satu kabupaten yang tidak  punya pesisir pantai, berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, menyebakan wilayah ini sangat sejuk, tumbuh-tumbuhan, tumbuh subur di sana.

Pesona alamnya indah memunculkan kesan damai, hamparan pemandangan lembah juga Danau Batur merupakan danau terbesar di kawasan pulau ini dan Gunung Batur salah satu Gunung berapi masih aktif,  berdiri di tengah-tengah kaldera membuat daerah ini menjadi salah satu tujuan wisatawan paling favorit, serta diminati di Bali. Jarak  ditempuh ke kawasan ini kira-kira 2 jam perjalanan mobil dari Denpasar atau Karangasem ataupun  Lovina. Jejeran restaurant sepanjang penelokan menawarkan kelebihan dari keindahan alam lembah dan gunung, terbukti sangat diminati, sambil bersantai menikmati makan siang, pengunjung disuguhi panorama alam yang memukau.
 
Untuk mengunjungi objek ini, wisatawan bisa ikut paket full day Kintamani - Ubud Tour  paket tersebut telah kami susun rute perjalanannya. Atau wisatawan bisa sewa mobil + supir + bbm menentukan sendiri rute arah perjalanan yang mau dipilih bisa juga setir sendiri kalau sudah tahu rute/ jalan ke tempat wisata tersebut.

Danau Batur - Kintamani

Bali Tours Club juga menyediakan tempat watersport  terletak di Tanjung Benoa Nusa Dua, rafting di Sungai Telaga Waja dan Ayung, tersedia juga voucher cruise seperti untuk Quicksilver yang berlayar setiap hari ke Nusa Penida,  Odyssey Submarine , kami sediakan juga paket perjalanan dari half day,  full day perjalanannya berdurasi 8-10 jam setiap harinya, sampai paket beberapa beberapa hari tour. Tujuan untuk berkunjung ke objek wisata Kintamani adalah salah satu terfavorit di pulau ini, tidak mengherankan saat jam santap siang tiba, kawasan ini dipenuhi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Yang menjadi andalan bagi restoran disini selain makanan yang lezat dan halal pemandangan di depan mata membuat sensasi santap siang lebih sempurna.

 tag: http://balitoursclub.com/berita_58_Kintamani.html

Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk adalah bagian dari trilogi novel Ahmad Tohari, yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Masing-masing novel diterbitkan secara berurutan, tahun 1982, 1984, 1985.
Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan novel pertama dari trilogi tersebut membuka ceritanya dengan mendeskipsikan suatu keadaan sebuah perkampungan di daerah Jawa. Kampung tersebut memiliki suatu kebiasaan yang menjadi ciri khasnya, yaitu ronggeng. Cerita dimulai ketika Dukuh Paruk dengan segala kecabulan dan keterbelakangannya sudah selama hampir belasan tahun kehilangan seorang ronggeng. Ronggeng adalah suatu kebanggaan di Dukuh Paruk. Perempuan yang meronggeng tidak akan dianggap sebagai perempuan jalang. Justru mereka akan sangat bangga apabila ada salah satu dari keluarga mereka menjadi seorang ronggeng. Maka selama hampir belasan tahun tanpa ronggeng, Dukuh Paruk serasa mati. Dukuh Paruk tidak pernah menyalahkan keberadaan ronggeng karena leluhur mereka, Ki Secamenggala tidak pernah juga menyalahkannya. Ki Secamenggala dianggap sebagai orang yang pertama kali menduduki Dukuh Paruk. Menurut kepercayaan warga Dukuh Paruk, Ki Secamenggala adalah orang yang terasingkan dari lingkungan masyarakat sekitar karena kecabulannya, entah itu dalam berkata atau dalam berpikir. Namun, tidak seorang pun dari warga Dukuh Paruk yang menyalahkan sikap Ki Secamenggala tersebut. Mereka justru sangat menghormati keberadaan Ki Secamenggala. Itulah yang menjadi alasan mengapa hingga bertahun-tahun lamanya Dukuh Paruk tetap berada dalam kecabulannya. Mereka senantiasa merindukan tarian ronggeng dan irama musik yang acapkali mereka dengar dulu, sebelum ronggeng dukuh paruk kehilangan keberadaannya. Sekitar sebelas tahun lalu, Dukuh Paruk digemparkan dengan racun tempe bongkrek yang dibuat oleh sepasang suami istri, Santayib dan istrinya. Tempe bongkrek yang sering dibuatnya untuk kali itu menyebabkan kematian pada banyak penduduk yang memakannya termasuk Santayib dan istrinya. Hanya beberapa yang masih bertahan hidup sementara sisanya tidak tertolong lagi. Siapa yang tahu, bahwa kemudian anak dari pembuat tempe bongkrek yang menggemparkan warga sekampung itu adalah calon ronggeng. Ia lah Srintil, gadis kecil berusia sebelas tahun. Dengan kepercayaan bahwa Srintil telah dirasuki indang ronggeng, Srintil menjadi ronggeng dalam usianya yang baru sebelas tahun. Tidak ada yang dianggap sebagai pertentangan dengan norma apapun ketika seorang anak yang sepantasnya bersekolah, bermain, dan dilindungi orang tua berlenggak-lenggok menari erotis dengan tatapan menggoda sebagai seorang ronggeng. Mungkin hanya Rasus yang merasa tidak rela ketika Srintil disahkan menjadi ronggeng dan dimiliki oleh semua warga Dukuh Paruk. Rasus merasa ada yang diambil dari dirinya ketika Srintil dimiliki semua orang. Terlebih ketika Srintil harus menjalani malam buka kelambu, suatu persyaratan yang harus dipenuhi Srintil sebelum akhirnya dinyatakan sebagai seorang ronggeng dukuh paruk. Rasus kehilangan sosok yang dihormati pada diri Srintil. Rasus memutuskan pergi dan menjadi seorang tentara. Pada saat ia kembali ke Dukuh Paruk setelah berusia dua puluh tahun, Rasus mencoba melihat kewajaran pada pemahaman yang dimiliki Dukuh Paruk terhadap ronggeng, termasuk kewajaran pada kebanggaan Srintil sebagai seorang ronggeng. Rasus memutuskan pergi kembali untuk bergabung bersama tentara lainnya dengan pemahaman yang dibawanya bahwa Dukuh Paruk dengan segala keasliannya tidak akan pernah bisa diubah sampai kapan pun. Maka Dukuh Paruk akan tetap dengan ronggeng dan kecabulannya.
Unsur-unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk:
Tema
Tema yang terdapat dalam novel ini adalah kebudayaan. Sebuah budaya ronggeng yang dimiliki sebuah kampung bernama Dukuh Paruk.
Tokoh dan Penokohan
Tokoh-tokoh yang saya anggap menonjol dalam menggulirkan alur cerita dalam novel ini adalah sang ronggeng Srintil, sang tentara Rasus, Sakarya, Kartareja dan Istrinya.
Srintil adalah seorang anak yatim piatu yang bercita-cita menjadi ronggeng. Dia pandai memikat, pandai menari, senang dipuji, cantik.
Rasus adalah seorang anak laki-laki yatim piatu yang menyukai bahkan mengagumi Srintil karena sebuah alasan ia melihat sosok ibunya pada sosok Srintil. Rasus adalah anak yang rajin, terbukti semasa kecilnya ia kerap membantu neneknya menggembalakan kambing. Kemudian ketika dewasa ia tumbuh menjadi laki-laki yang patuh terhadap keharusan bahwa ia harus meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi seorang tentara. Ketika menjadi seorang tentara, Rasus tidak lagi ragu-ragu untuk memilih jalan yang seharusnya ia tempuh.
Sakarya, kakek Srintil yang amat patuh pada adat. Sakarya sangat memercayai keberadaan Ki Secamenggala. Sakarya bahkan membuat Srintil menjadi seorang ronggeng di usia muda.
Kartareja, seorang dukun ronggeng yang licik. Ketika malam buka kelambu, ia melakukan kelicikan pada dua orang pemuda yang mampu memenuhi persyaratan untuk bisa mewisuda keperawanan seorang ronggeng, Srintil.
Istri Kartareja juga sama halnya dengan suaminya, licik. Nyai Kartareja juga pandai memikat dan menaklukkan orang yang sedang emosi. Terbukti ketika Nyai Kartareja menaklukkan emosi dua orang pemuda yang hendak mewisuda keperawanan Srintil.
Ada pun tokoh-tokoh lainnya seperti Darsun, Warta, Sakum, Santayib, Istri Santayib, Nenek Rasus, Nyai Sakarya, Siti, Ibu Siti, dan warga Dukuh Paruk lainnya, juga sang leluhur yang sosoknya selalu disebut-sebut warga Dukuh Paruk; Ki Secamenggala.
Alur
Alur yang digunakan adalah alur campuran. Ceritanya terkadang melaju ke masa depan, namun juga terkadang mengulas masa lalu. Menurut saya, alur yang digunakan dalam penceritaan ini sangat meloncat-loncat. Untuk pertama kali, Rasus menceritakan kehidupannya di usia empat belas tahun, lalu tiba-tiba ia menjadi tentara dan usianya dua puluh tahun. Jalan cerita tidak sedikit pun menjabarkan tentang bagaimana Rasus menjadi seorang tentara dan Srintil mulai beranjak menjadi wanita dewasa. Ada pun kilas balik ke masa yang lebih dulu, ketika Srintil masih bayi dan keracunan akibat tempe bongkrek itu terjadi, setidaknya itu lebih jelas penjabaran alur ceritanya. Namun, seperti ada sesuatu yang hilang atau mungkin memang disengaja ketika penggunaan alur penceritaan dari usia Rasus yang ke-14 tahun menuju penceritaan pada saat usia Rasus yang ke-20 tahun. Di akhir cerita pun seperti ada sesuatu yang menggantung, sesuatu yang belum selesai. Hal ini dapat dipahami karena novel ini adalah novel pertama dari trilogi novel yang ada. Kesimpulannya, alur dalam novel ini terkesan meloncat-loncat bagi saya.
Latar
Latar tempat
Latar tempat yang secara umum adalah di sebuah perkampungan yang bisa dikatakan sebagai perkampungan primitif.
Latar tempat lainnya yang lebih detail adalah:
· di bawah pohon nangka: “Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri.”
· di rumah Kartareja: “Kebekuan di beranda rumah Kartareja berakhir”
· di pekuburan Dukuh Paruk: “Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya berdiri bersilang tangan.”
· di rumah nenek Rasus: “aku sengaja tidak keluar dari rumah Nenek.”
· di pasar: “Di sini memang pasar,…”
Dan beberapa latar tempat lainnya lagi.
Latar waktu
Latar waktu yang terdapat dalam novel ini adalah latar waktu tahun 1946 dan 1965.
Detailnya, latar waktu yang terdapat dalam novel adalah latar waktu pada saat:
· sore hari: “Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup”
· malam hari: “pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman.”
Dan juga latar waktu di pagi dan siang hari yang tidak diperinci dalam tulisan ini.
Sudut Pandang
Sudut pandang pengarang dalam novel ini adalah sebagai sudut pandang orang pertama serba tahu. Ahmad Tohari memasukkan sudut pandang keakuannya pada tokoh Rasus yang dibuat seolah tahu semua hal yang terjadi pada semua tokoh lainnya yang terdapat dalam novel ini.
Amanat
Sulit rasanya ketika saya harus memandang kebenaran berdasar pada kebenaran yang dipatuhi oleh cerita. Sementara kebenaran yang saya yakini sungguh jauh berbeda dengan yang terdapat dalam cerita. Namun, menilai karya sastra memanglah tidak dibenarkan jika memakai penilaian dari sudut pandang kesubjektifan.
Dengan segala keterbatasan penangkapan nilai-nilai dalam novel ini, mungkin amanat yang hendak disampaikan dari novel ini adalah keterbatasan hanya pada satu pemahaman tidak akan membuat kemajuan yang lebih pada kehidupan. Warga Dukuh Paruk boleh saja bahkan memang seharusnya menghargai adat yang berlaku sudah sekian lamanya, namun kebanggaan dan penghargaan tersebut jangan sampai menutup mata mereka terhadap kehidupan di luar Dukuh Paruk sehingga mereka buta sama sekali tentang kenyataan kehidupan di luar kampung mereka sendiri.
Tanggapan Saya Dalam Beberapa Hal Lainnya
Keadaan Batin Rasus
Rasus yang diam-diam sedari kecil menyukai Srintil didasari oleh alasan ia melihat sosok ibunya yang tidak pernah ia jumpai sama sekali ada dalam sosok Srintil. Namun, suatu ketika ia kecewa karena Srintil telah disahkan menjadi ronggeng yang pantas dimiliki bersama. Ada hal yang hilang dalam diri Rasus, yang seolah terenggut sebagai miliknya. Berulang-ulang penceritaan dalam novel ini menyinggung keadaan batin Rasus yang merindukan ibu dan ia menemukannya dalam sosok Srintil. Keadaan batin Rasus di satu ketika agaknya menjadi sebuah kritikan bagi para ahli yang bekerja dalam bidang kesehatan, seperti penggalan kalimat yang terdapat dalam cerita, yaitu:
“Entah di mana, entah di mana. Orang-orang pandai itu, siapa
pun dia, merasa berhak menyembunyikan kubur Emak. Aku yang pernah sembilan bulan
bersemayam dalam rahim Emak tidak perlu mengetahuinya.”
Tidak ada yang pernah berterus terang tentang kejadian yang terjadi pada ibu Rasus. Semua mengatakan dalam hal yang menggantung. Hingga hanya ada dua kemungkinan tentang ibunya dalam pikiran Rasus, yaitu antara ibunya mati dan mayatnya dicincang-cincang, dijadikan bahan penelitian tentang kasus racun tempe bongkrek oleh para ahli kesehatan atau kemungkinan kedua, ibu Rasus sembuh dari keracunan itu dan menjalani kehidupan di luar Dukuh Paruk bersama mantri yang merawatnya dan ia melupakan Rasus. Kemungkinan mana pun yang terjadi membuat Rasus menyimpan dendam pada mantri. Hingga di satu ketika ia berpikir telah menembak kepala sang mantri padahal yang ia tembak adalah batu. Batu itu hancur berkeping-keping dan dalam pandangan Rasus, kepingan batu-batu itu adalah kepingan kepala mantri yang ia tembak.
Ronggeng Bagi Warga Dukuh Paruk
Ronggeng bagi Dukuh Paruk seakan menjadi sesuatu yang amat berharga dan patut dimuliakan. Seorang istri bahkan tidak akan merasa dipermalukan bahkan merasa sangat bangga ketika suaminya mampu menjadi orang yang paling lama menari bersama sang ronggeng. Dua orang pemuda bahkan rela bertengkar demi dapat tidur bersama seorang ronggeng yang masih kanak-kanak. Esensi tentang kebenaran yang banyak disepakati seakan tidak berlaku bagi warga Dukuh Paruk. Ronggeng adalah suatu penghargaan terhadap leluhur, bukan pelanggaran terhadap norma. Tidak ada yang patut disalahkan dan dibenarkan karena adat yang mengakar telah menanamkan pemahaman yang jauh berbeda dengan kehidupan di luar Dukuh Paruk. Pernikahan bukan lagi sebagai sesuatu yang dianggap sakral karena setelah menikah pun seorang laki-laki masih dapat meniduri wanita bahkan istri orang lain. Dukuh Paruk tidak pernah mempermasalahkan jika ada sepasang manusia yang tidur bersama dan mereka bukan suami istri. Perkara yang mudah saja jika seorang suami menemukan istrinya tidur dengan suami orang lain, maka suami akan membalas meniduri istri orang yang meniduri istrinya. Tidak akan ada pertengkaran tentang kesusilaan di Dukuh Paruk karena mereka memiliki caranya sendiri dalam menyikapi hal tersebut.
Srintil Sebagai Perempuan Biasa
Srintil bangga menjadi seorang ronggeng karena banyak pujian dan pemanjaan akan didapatkannya. Tapi ketika akan dilaksanakan malam buka kelambu pun, ia sadar bahwa ia sedang diperjualbelikan. Bahkan ketika dewasa, ia banyak bercerita tentang harapannya menjadi seorang istri dan memiliki anak. Hal tersebut menunjukkan bahwa seorang ronggeng sekalipun memiliki naluri sebagai perempuan normal, perempuan yang memiliki harapan untuk dapat menjadi seorang istri dan seorang ibu.
Menilai sosok Srintil dan Dukuh Paruk tidak akan terwakilkan dengan sempurna jika yang dinilai hanya dari satu novel karena novel ini adalah trilogi. Ada yang hilang, janggal, menggantung ketika novel ini selesai dibaca dan kemudian ditanggapi. Cukup kiranya jika saya hanya menuliskan hal-hal di atas sebagai pemandangan saya terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari. 

tag:  http://media.kompasiana.com/buku/2012/11/29/resensi-novel-ronggeng-dukuh-paruk-506940.html

Menggapai Mahameru, Si Langit Pulau Jawa


Senin, 13 Februari 2012, 11:15 WIB
Foto-foto: Nyanyu/PicnicHolic
Di puncak Mahameru
Di puncak Mahameru
Mahameru merupakan puncak dari Gunung Semeru,  gunung berapi tertinggi di Pulau  Jawa yang bearada di antara Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), Puncak Mahameru mendapat julukan Langit Pulau Jawa. Gunung berapi ini hingga saat ini masih aktif selalu menawarkan cerita unik bagi para pendakinya.

Meskipun harus melewati jalur yang cukup terjal dan cuaca yang sangat dingin (sekitar 15-21 derajat Celcius di siang hari) untuk menggapainya, Mahameru masih menjadi puncak favorit pilihan pendaki Indonesia. Mendengar cerita tentang pesona kecantikan sepanjang jalur pendakiannya membuat saya tergoda untuk mendakinya.

Ranu Pane

Dengan sebuah jeep dari Desa Tumpang, saya dan teman-teman menuju Desa Ranu Pane yang merupakan titik awal pendakian. Sepanjang 1,5 jam perjalanan awal menuju pos pendaftaran di Ranu Pane,  mata kami sudah dimanjakan dengan pemandangan segar yang mampu menghilangkan kepenatan setelah 16 jam naik kereta api dari Jakarta.

Kanan kiri terlihat perkebunan apel dan tebu milik masyarakat setempat.  Udara segar benar-benar kami nikmati hari itu. Gugusan pegunungan Bromo dengan bukit teletubbies-nya juga tak luput dari penglihatan mata dan kamera kami. Di ujung pos pendaftaran, Ranu Pane (Ranu artinya Danau) yang dikelilingi perkebunan kentang, perbukitan, dan keramahan penduduk yang sedang berladang, menyambut kami. Sebuah perpaduan bagus untuk meningkatkan mood kami menggapai Mahameru.

Ranu Kumbolo, Surga di Pagi Hari

Cuaca cerah saat itu, dan kami sudah menyelesaikan proses administrasi di pos pendaftaran. 2 jam pertama jalur yang kami lewati cukup landai. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat di shelter-shelter peristirahatan. Pemandangan khas hutan tropis mendominasi jalur yang kami lewati. Udara dingin sore itu memaksa kami untuk tidak berhenti lama di tiap shelter yang kami singgahi. Suhu yang dingin bukan hanya karena udara yang diam, tetapi juga hembusan angin kencang.

Satu jam selanjutnya jalur agak sedikit mendaki, namun tidak terjal. Kami tidak bisa melihat pemandangan kanan kiri lagi karena kabut sudah turun dan gelap malam sudah datang. Kami hanya fokus pada jalan setapak yang kami lewati. Jaket dan sarung tangan mulai kami kenakan bersama dengan headlamp untuk menerangi jalan.

Setibanya di Ranu Kumbolo, kami mendirikan tenda untuk bermalam dan beristirahat. Beberapa teman seperjalanan mengatakan Ranu Kumbolo ini luar biasa indahnya. Tapi, karena hari sudah gelap dan dingin yang luar biasa ini menusuk tulang, secangkir coklat panas menurut saya lebih indah saat itu.

Hingga saat terbangun di pagi hari, saya seperti  berada di Surga. Ah, saya memang belum tahu surga itu seperti apa. Tapi demi melihat sekeliling, tempat dimana saya menghabiskan malam karena kelelahan, saya  merasa seperti berada  di tempat terindah.

Dihadapan saya terpampang  danau air tawar  yang menyejukkan penglihatan. Refleksi 2 bukit pada kanan dan kirinya terlihat jelas dipermukaan danau seluas 14 hektar tersebut. Pohon pinus dan perbukitan masih diselimuti kabut tipis. Saya tidak percaya ada danau cantik di ketinggian 2.400 mdpl ini.

Kami tidak sendiri. Beberapa pendaki juga mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Inilah rumah singgah bagi para pendaki yang akan naik atau pun turun dari Mahameru. Kegiatan memancing, mengisi botol kosong dengan air danau, mengabadikan surga dengan kamera, semua terlihat selaras.

Kami saling menyapa, saling bercerita, bahkan berbagi kopi. Hawa dingin menyengat yang kami rasakan tadi malam, sekarang menjadi hangat. Hangat oleh matahari yang sudah keluar, juga akan persahabatan yang ditawarkan. Saya jatuh cinta pada Ranu Kumbolo!

Kalimati

Kami tidak bisa berlama-lama menikmati surga gunung ini. Kami masih harus mendaki 1.276 meter lagi, tentunya dengan jalur yang tak lagi landai. Setelah membuat sarapan agar energi tetap seimbang, kami membongkar tenda dan kembali melanjutkan perjalanan. Enggan rasanya meninggalkan Ranu Kumbolo. Tapi, ranger kami mengingatkan bahwa setelah turun dari Mahameru kita akan kemping lagi di sini.

Tujuan kami selanjutnya adalah pos Kalimati, pos terakhir sebelum kami menggapai Si Langit Pulau Jawa. Empat jam perjalanan, dengan pemandangan yang lebih menakjubkan. Melewati Tanjakan Cinta, terlihat panorama Ranu Kumbolo yang biru, tenang dan menyejukkan. Pada sisi sebaliknya, terlihat savana luas, seluas mata memandang. Itulah padang savanna bernama Oro-Oro Ombo.

Alang-alang kering setinggi tubuh berjajar rapi membentuk jalan setapak kecil. Bersentuhan dengan tubuh kami saat kami melewatinya. Bunga Edelweiss dan Lavender tumbuh liar dan membentuk koloni sendiri, memberikan pendaran warna berbeda di antara savana luas berwarna emas. Sesekali kami mencium harum bunga Lavender. Atau sengaja mendekatkan ke penciuman kami ke bunga Edelweis yang sedang mekar. Bau yang khas yang tak akan pernah terlupakan.

Bukit-bukit hijau terlihat gagah namun anggun memagari savana ini. Seakan menjaga agar keindahannya tidak pudar. Kami melihat puncak gunung berwarna abu-abu, tidak hijau seperti gunung lain yang pernah saya daki. Ternyata itulah puncak Mahameru. Berwarna abu-abu, terlihat terjal dan gersang. Tapi saya justru makin semangat untuk melanjutkan perjalanan karena merasa semakin dekat dengan tujuan.

Empat jam sudah kami berjalan beriringan dengan pemandangan yang menakjubkan. Hawa dingin kembali menghadang kami setibanya di Kalimati, pos terakhir sebelum mendaki. Rasa dingin di Ranu Kumbolo ternyata tak sebanding dengan Kalimati yang lebih dingin ini. Siang hari, dengan matahari yang tetap memancar, hawa dingin tetap tidak terelakkan. Angin lembah yang dingin dan bertiup kencang serasa membuat tulang-tulang kelu.

Setelah mendirikan tenda, kami segera memasak dan menyantap makanan hangat (yang juga cepat dingin). Setelah itu langsung tidur, walaupun baru jam 2 siang. Ya, kami memang harus menyiapkan energi kami untuk pendakian nanti malam.

Puncak Mahameru  hanya bisa ditaklukkan jika kita berangkat sekitar jam 1 dini hari. Lebih dari itu, kemungkinan kita tidak akan bisa mencapai puncaknya karena badai  pasir yang menghadang. Atau yang lebih parah, terjebak di puncaknya, tidak bisa turun.  Rasa lelah, perut kenyang, hawa dingin hingga ke sumsum tulang, membatalkan niat saya untuk menikmati panorama di Kalimati secara maksimal. Tidur memang menjadi pilihan yang tak bisa ditawar.

Puncak Mahameru

Pukul 1 dini hari kami mulai merangkak. Segala perlengkapan kami tinggal di dalam tenda di Kalimati. Kami hanya membawa air mineral, coklat, dan perlengkapan P3K. Sulitnya medan yang akan kami tempuh memang tidak memungkinkan untuk membawa perlengkapan seperti saat mendaki awal.

Jalan yang sempit, berpasir dan berkerikil kerap membuat langkah kami terhenti setiap 15 menit. Oksigen yang semakin menipis dan udara dingin hingga mencapai  9 derajat celcius tak sedikit pun menyurutkan langkah kami. Kami benar-benar bertekad untuk mencapai Puncak Mahameru, meskipun tertatih. Kami benar-benar mengatur langkah karena kanan kiri pada beberapa titik yang kami lewati jalanan longsor.

1,5 jam melangkah dalam gelap dan lembab, akhirnya kami tiba pada ‘pintu gerbang’ si jalur terjal Mahameru, jalur yang kami lihat saat kami menuju Kalimati. Abu-abu, berkerikil, dan gersang. Langkah menjadi makin tertatih. Kami tidak lagi mendaki, namun merangkak. Rasanya, untuk merangkak 1 meter saja butuh effort yang luar biasa. Merangkak 1 langkah, turun 3 langkah. Itulah yang kami alami.

Berhenti terlalu lama hanya akan mendapatkan dingin yang menyiksa. Saya sempat putus asa dan berniat turun sebelum mencapai Sang Puncak, namun, lagi-lagi teman-teman sependakian memberikan semangat dengan mengatakan “Ayo… itu puncaknya sudah terlihat. Tidak sampai satu jam sudah sampai kok!”. Kata-kata yang menghibur sekali, walaupun pendakian masih jauh. Mungkin butuh sekitar  3 jam lagi.

Pemandangan luar biasa

Makin tinggi, makin tertatih karena oksigen makin tipis. Jalur yang didaki dipenuhi dengan kerikil dan batu besar yang siap menggelinding mengenai kita kapan saja. Tak bisa beristirahat lama karena angin dingin makin bertiup kencang membawa terbang debu-debu di sekitar kita.

Namun, di antara rasa putus asa yang kerap datang, kami disuguhi pemandangan luar biasa. Dari ufuk timur, warna jingga bertumpuk dengan warna oranye muncul membentuk garis lurus pada dasar langit yang biru. Diikuti dengan munculnya bulatan emas mentari. Pemandangan luar biasa itu hanya terjadi tidak lebih 2 menit. Itu adalah bonus untuk kami sebelum sampai puncak.

Lima jam mencoba untuk terus merangkak, kami akhirnya sampai di Puncak Mahameru. Sembah sujud saat itu demi melihat keajaiban yang Allah ciptakan. Jajaran gunung Bromo, Slamet, Sundoro, Sumbing, semua terpampang di depan mata dengan megahnya.

Awan kini tidak berada di atas kami, tapi di bawah kami. Jika saat itu kami dalam film Doraemon, pastilah adegan melompat ke awan sudah kami lakukan. Awan-awan yang terasa begitu dekat dengan kaki, melingkupi beberapa sudut perbukitan dan pegunungan di Pulau Jawa.

Gradasi warna alam refleksi dari sinar matahari pagi terpancar begitu sempurna. Hijau lumut, hijau toska, hijau muda, biru cerah, jingga, keemasan, putih berarak, perpaduan warna yang menyejukkan hati untuk lukisan alam paling sempurna dari Sang Maestro.

Sayang sekali, saya tak bisa berlama-lama di Puncak Mahameru ini. Selain (lagi-lagi) hawa dingin dan angin yang bertiup kencang, kami khawatir badai akan datang. 25 menit berada di titik tertinggi Pulau Jawa, cukup membayar rasa letih dan (hampir) putus asa saya.

Setelah mengabadikan gambar seadanya karena hanya membawa kamera saku, kami semua turun. Masih merasakan lelah, tapi kami semua bangga. Bukan bangga karena bisa sampai di puncak, namun bangga karena kami bisa mengalahkan ego kami untuk tetap terus melangkah sembari saling memberi semangat kepada teman seperjalanan. Tenda di Kalimati telah menanti kami dengan sejuta cerita yang siap yang kami bagi.

tag: http://www.republika.co.id/berita/komunitas/picnicholic/12/02/13/lzbd69-menggapai-mahameru-si-langit-pulau-jawa

Minggu, 17 November 2013

Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

Resensi Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta




Resensi Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta
Deskripsi Film:
· Judul Film                        : 3 Hati 2 Duni 1 Cinta
· Genre                              : Drama
· Penulis dan Sutradara      : Benni Setiawan
· Produksi                         : Mizan Productions
· Pemeran Utama              : Rezza Rahadian, Laura Basuki, Arumi Bachin
· Pemain                           : Henidar Amroerasyid, Rosyid K, Robby T, Ira W, Zainal A,
                                       Jay Wijayanto
· Music director                : Thoersi Argeswara
· Editor                             : Cesa David Luckmansya

Sinopsis Film :
Sebuah judul film yang lebih menarik dari pada judul aslinya.Film ini diangkat dari sebuah  novel best seller karya Ben Sohib berjudul “The Da Peci Code” dan “Rosid & Delia”.Tokoh utamanya bernama Rosid, pemuda muslim seniman keturunan Arab-Betawi yang terobsesi menjadi sosok W.S Rendra di tengah lingkup pemuda-pemudi yang menyukai hiburan instan. Delia, seorang pemudi aktivis sosial beragama Katolik keturunan Manado, tertarik dengan pribadi seorang Rosid. Keduanya saling mencintai, oleh karenanya mereka menjalin sebuah hubungan.
Dalam kisah ini diceritakan tokoh Rosid anak kedua dari dua bersaudara,dan  satu-satunya keturunan Arab-Betawi di kelurganya dan menjadi harapan sang ayah untuk melanjutkan keturunanny. Namun Rosid selalu membuat ayahnya bernama Mansur kesal lantaran susah menggunakan peci. Mungkin karena rambut kribonya yang dianggap menjadi penghalang Rosid berpeci, oleh karena itu Rosid  diminta sang ayah mencukur rambut ala senimannya itu. Bagi sang ayah, peci merupakan simbol kesalehan muslimin sedangkan Rosid menganggap peci bukanlah tuntunan agama melainkan produk budaya.  Ternyata tongkrongan seniman Rosid membawa berkah juga. Delia, seorang gadis katolik berwajah manis, naksir  pada sosok Rosid. Tentu saja ini hubungan yang nekad . Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan. Tapi orang tua mereka tak  rela untuk merestui hubungan mereka. Maka mereka pun mencari cara untuk memisahkan Rosid dan Delia. Jurus Frans dan Martha, orang tua Delia, adalah dengan mencoba mengirim Delia sekolah ke Amerika.Sedangkan Mansur dan istrinya berniat untuk menjodohkan anakya dengan pemudi berkerudung bernama Nabila. Acara lamaran pun berlangsung tanpa memberitahukannya terlebih dahulu pada Rosid. Niatan kedua orang tua Rosid harus berakhir karena sikap Rosid yang jujur pada Nabila mengenai hubungannya dengan Delia. Perbedaan agama dan pertentangan antara keluarga mereka untuk ke depannya membuat mereka lebih memilih untuk mengakhirinya. Mereka menyadari bahwa perbedaan diantara mereka tak bisa lagi dipertahankan. Akhirnya Rosid kuliah sastra di Universitas Indonesia dan menikah dengan Cut Zahra yang berasal dari Aceh. Delia melanjutkan studi ke Amerika di jurusan Antropologi dan menikah dengan Allan.  Sedangkan Nabila menikah dengan Ahmad Jaelani dan membuka sebuah butik muslim. Mereka sadar perbedaan agama yang terjalin diantara mereka tidak dapat menyatu, namun mereka bahagia dan mendapatkan pengganti yang lebih baik dan seiman
Sebagaimana Cinta, film ini mengisahkan percintaan beda keyakinan. Tapi kelebihannya adalah soal cerdas, prinsipil, dan penuh filosifis. Film ini meraih  film terbaik Piala Citra 2010. Yang saya sukai dari naskah film ini adalah dialognya yang membumi,keseharian kehidupan masyarakat. Terbuka wadah toleransi dalam tiap kontak Rosid dengan Delia. Begitu rasionalnya mereka hingga makin lama menguatkan spiritualisme masing-masing. Film ini lebih memilih ending yang jelas. Tak perlu tanda elipsis. Walau awalnya saya pikir mengambang lebih elegan, namun paket akan komplit untuk sebuah komedi romantis apabila case closed. Kekurangannya mungkin terletak pada perbedaan agama diantara keduanya yang menyebutkan kedua nama agama tersebut. Karena di khawatirkan akan mengakibatkan pertentangan antara kedua agama tersebut.

tag: http://ajenganggellasari.wordpress.com/2013/01/27/resensi-film-3-hati-2-dunia-1-cinta/

21 Film Korea Romantis Terbaik Versi Muvimania.Com


1. My Sassy Girl (2001)

Film korea romantis my Sassy girl ini sangat bagus untuk ditonton. Selain kisah romantisnya, sang pembuat film juga menyelipkan unsur komedi didalam ceritanya. Anda akan dibuat terbahak bahak dengan aksi lucu dari Cha Tae Hyun dan Jun Ji-Hyun. Menceritakan kisah seorang pemuda bernama Gyun Woo yang jatuh cinta pada seorang wanita pemabuk. Namun perjuangan Gyun Woo mendapatkan hati sang wanita pemabuk ini tidak mudah. Dia harus mendekam di penjara, harus rela dipukuli, bahkan dia rela harus mengalami masalah lainya yang lebih berat demi mendapatkan cinta dari gadis itu. Rating untuk film korea romantis My Sassy Girl (2001) adalah 9/10. 

2. Always / Only You (2011)

Film Always / Only You (2011) juga merupakan salah satu film romantis korea yang wajib anda tonton. Kisah perjuangan seorang pemuda bernama Chulmin (So Ji-sub) yang rela melakukan apa saja demi seorang gadis buta bernama Jung Hwa. Chulmin harus mempertaruhkan nyawanya lewat ajang tinju bebas demi mendapatkan uang untuk operasi mata Jung Hwa. Dia  berhasil mendapatkan biaya untuk operasi, namun sayangnya chulmin sendiri kini mengalami cacat seumur hidup. Akankah sang gadis mau menerima Chulmin yang ternyata lebih memilih menghindar saat bertemu Jung Hwa. SIlahkan tonton sendiri film Always ini. Rating untuk film korea romantic Always / Only You (2011) adalah 9/10. 

3. A Moment To Remember (2004)

Film ini dibintangi oleh Jung Woo-sung dan Son Ye-jin. Mengisahkan tentang tentang wanita bernama Su Jin  yang menikah dengan anak buah bapaknya bernama Chul Soo. Di awal pernikahan kehidupan mereka sungguh bahagia. Namun ditengah perjalanan hidup mereka, ternyata sang Su jin mengidap penyakit Alzheimer's yang membuat dirinya mulai sering lupa. Namun masalah tersebut dia sembunyikan dari suaminya. Hingga puncaknya pas penyakit yang diderita Su jin semakin parah. Dan dia mengalami hilang ingatan. Tidak bisa mengenali orang orang disekitarnya, termasuk suaminya Chul Soo. Lalu bagaimanakah perjuangan Chulsoo menghadapi penyakit yang diderita istrinya ini. Silahkan tonton sendiri filmnya. Rating Film korea romantic a Moment to remember (2004) 9 / 10.

4. A Perfect Match (2002)

Kim Hyo Jin (Jo Yeo Jeong) yang bekerja di sebuah jasa layanan kencan di Korea, dan dia sangat baik dalam mempertemukan dan menjodohkan para kliennya. Namun sayangnya dalam kehidupan pribadinya sendiri, dia masih jomblo atau belum punya pasangan. Hingga suatu hari dia bertemu seorang pria (Jung Joon Ho) yang kebetulan memakai jasa biro jodohnya, Kim Hyo Jin berusaha mencarikan pasangan untuk pria tersebut, namun sayangnya selalu tidak cocok. Semakin lama dia mencarikan jodoh, malah membuat Kim Hyo Jin semakin suka pada pria tersebut. Bagaimana kisah cinta mereka. TOnton sendiri film korea romantic A Perfect Match (2002). Rating nya 8 / 10. 

5. You’re My Pet (2011)

Eun-Yi (Kim Ha-Neul) seorang wanita yang bekerja sebagai editor untuk majalah fashion. Dia terus gagal dalam menjalin hubungan dengan para pria. In-Ho (Jang Keun Suk-) yang berprofesi sebagai seorang penari balet yang mempunyai karir cemerlang. In-Ho saat itu sedang mencari tempat tinggal, karena diusir dari tempat kontrakannya yang dulu. Kemudian dia minta tolong temannya Eun-Soo (Choi Jong-Hoon) mencarikan kontrakan untuknya,hingga akhirnya dikenalkan ke Eun Yi. Eun Yi mau menerima In Ho tinggal dirumahnya, dengan syarat dia harus mau berpura pura menjadi hewan peliharaanya. Kisah cinta yang unik dan lucu. Rating untuk Film Korea Romantis You’re My Pet (2011) adalah 9/10

Film korea romantis lainnya yang belum kami tuliss sinopsisnya, tapi pasti bagus untuk anda tonton, bisa anda lihat dibawah ini: 

6. Love You You (2011)
7. The Classic (2003)
8. A Millionaire’s First Love (2006)
9. Seducing Mr. Perfect (2006)
10. My Girlfriend is An Agent (2007)
11. Babo (2008)
12. Almost Love (2006)
13. Love so Divine (2004)
14. Daisy (2006)
15. 200 Pounds Beauty (2006)
16. Crazy First Love (2003)
17. Cyrano Dating Agency (2010)
18. My Wife is a Gangster (2001)
19. My Wife is a Gangster  3 (2006)
20. Love in Magic (2005)
21. The Righteous Thief (2009)

Sebenarnya masih banyak lainnya yang belum kasih masukkan. Tetapi deretan film korea romantis yang kami rangkum diatas juga sudah kami pilih yang benar benar bagus dan rekomended untuk anda tonton. Mungkin lain kali akan kami update lagi film korea romantis lainnya. Makanya kunjungi terus muvimania.com untuk melihat berita terbaru kami dan juga review film film terbaru yang akan tayang di bioskop.

tag: http://filmbiosko.blogspot.com/2013/04/21-film-korea-romantis-terbaik-versi.html

About My Blog

Assalamu'alaikum para pembaca blogku

oke..
kali ini aku bakal bahas, apa-apa aja yang bakal aku pos dan tentang apa ulassan blogku ini.

First
Kebetulan karena hobi aku itu nulis, jadi ulassan yang ada di blog aku ya all about sastra. bagi kalian yang punya hobi yang sama denganku, silahkan bisa join ataupun follow blog aku ini. untuk sesi pertanyaan tentang pos aku yang berhubungan dengan ini, sementara gak aku sediain. alesannya, karena aku gak ada komputer ataupun laptop di rumah. jadi susah untuk lakuin sesi itu kalo medianya aja gak ada

Yang Kedua
tak dapat dipungkiri, aku adalah seorang Movie Lovers. ya film juga termasuk yang aku gemarrin selain nulis, jadi blog aku bakal aku isi dengan rincian film lama ataupun film terbaru (InsyaAllah). jadi buat kalian yang movie lovers juga, bisa follow dan join di blogku ini.

Yang Ketiga
aku adalah penyuka sastra dan alam, jadi aku bakal bahas all about sastra juga alam. jadi bagi kalian yang cinta sama kedua hal tersebut juga bisa follow atau join blogku ini.

Mungkin segitu aja perkenallan blogku ini, jangan lupa bagi yang mampir untuk join ataupun follow. Aku juga sediain sesi follow back antar blog ataupun join balik ke blog kalian.. oke thanks atas perhatiannya.. dan selamat mengisi blog kalian :D